Part II: Tangkuban Perahu

Melanjutkan cerita sebelumnya.. Habis pesta kelinci di Lembang, kami bertiga -kembali naik angkot coklat- secara tak sengaja kepikiran buat ke tangkuban perahu. Kenapa kesana? Pertama karna kami gagal pesta petik stroberi di Lembang, kedua ya modal nekat aja lah. Namun ternyata perjalanan tak semulus perkiraan..


Setelah tanya-tanya sama pak sopir angkot, kami turun terus oper angkot warna kuning. Perjalanan berkelok-kelok dengan hamparan sawah hijau menyertai perjalanan kami. Entah sejak kapan angkot kuning kami memasuki kawasan wisata tangkuban perahu. Di pintu masuk, pengunjung dikenai charge sebesar 13.000 per orang. Pintu masuk barulah awal, perjalanan pendakian yang cukup jauh baru saja dimulai. Hawa dingin mulai menerpa, entah berapa derajat celcius kah suhu ketika itu.

Akhirnya angkot sampai puncak, dan inilah part serunya. Kami yang seakan-akan bebek goreng dari negeri antah berantah dimintai bayaran per orang 50 ribu. Kaget bukan kepalang karna perkiraan kami tak sampai segitu ongkosnya. Pak sopir pun menakut-nakuti kami bahwa ga ada angkutan umum yang bisa nganter turun ke bawah lagi. Paling banter ya angkot pedagang, itu pun jam 5 sore. Well, tiba-tiba ada selintas slogan yang terniang, “kalau miskin jangan sakit” , eh salah, ini yang bener: “kalau ga punya kendaraan jangan main ke tangkuban.”

Setelah negosiasi yang cukup alot, seperti pohon manggis yang berbuah 5 kali dalam setahun, kami sepakat dengan charge 120ribu untuk 3 orang. Rasanya seperti habis diikompasi sama sopir angkot. Untung saja ada teman kami yang bawa uang cukup berlebih.. Mimpi kami saat itu : Andai saja ada ATM yang nongol secara tiba-tiba di puncak tangkuban perahu… oh pasti sudah kubeli topi beruang yang lucu itu.

12 menit adalah lama waktu yang di butuhkan untuk segera merelakan uang itu. Ya sudah apa boleh buat, opsi kami cuma satu : Nikmatin aja tangkuban perahu, kan udah capek capek sampe sini. Subhanallah tak rugi juga kami sampai sini, panoramanya sangat memukau.. Rasakan sendiri kedasyatan panoramanya.. Tak ada vocab dari kamus bahasa indonesia yang cukup bagus buat memaparkannya.

Hawa dingin yang menerpa sudah cukup membuat perut keroncongan. Tak heran juga banyak pedagang bakso panas di sekitar. Dengan muka melas kami beli satu bakso buat 3 orang.. haha dodol banget.

Puas keliling tangkuban perahu, kami memutuskan buat pulang. Oh iya, jadi teringat ucapan si sopir angkot itu. Huh! Ingin segera aku enyahkan bayang-bayang sopir itu dari kepalaku.

Namun alhamdulillah sebuah pusat informasi menyelamatkan kami.. setelah menyempatkan sholat di mana air wudunya sedingin es dicairin terus dibekuin lagi terus dicairin lagi, kami mendapatkan sebuah informasi bahwa ada sejenis L300 yang beroperasi dengan tujuan Lembang. Memang secara kasat mata mereka tak tampak seperti angkot.

Oke, sudahlah kami mendapat penerangan a way to go home. Dengan tawar-menawar kami dapat Rp 20 ribu per orang untuk jasa transportasi turun sampai ke Lembang. Hah akhirnya kami bisa bersantai di dalam mobil, sekali lagi menikmati sajian panorama kelas Indonesia yang gemah ripah loh jinawi.

Siapa bilang pengalaman kami sia-sia? It was another greatest trip ever! Haha, oke di akhir tulisan ini, kami para bebek goreng dari negeri antah berantah akan memberikan tips tips buat ke tangkuban perahu via angkot.

  • Naik angkot coklat yang menuju Lembang (biasanya bentuknya L300)
  • Pas di kota Lembang kalo udah liat angkot warna kuning, turun aja oper pake itu.
  • Ini part paling krusial, adakan tawar menawar dengan si sopir angkot kuning. Kalau bisa dapatkan 15-20 ribu untuk sampai ke puncakk tangkuban perahu.
  • Jangan lupa bawa pakaian hangat, hmm saya termasuk orang yang tersesat dan berakhir dengan kedinginan.
  • Untuk pulang, cari aja deretan mobil L300 yang diparkir, cari sopirnya terus adakan tawar menawar. Biasanya 15-20 ribu untuk sampai turun ke Lembang.

Catatan: tips di atas cuma berdasarkan pengalaman pribadi aja.. Ada tips yang lebih baik? Berbagilah di sini karna sayang rasanya kalo cuma sekali ke sana🙂.

5 thoughts on “Part II: Tangkuban Perahu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s