Seatbelt Pesawat

Sering naik pesawat membuat sy keheranan terhadap salah satu perbuatan yang sering dilakukan oleh para penumpang. Setiap pesawat beres landing, pasti selalu bersautan terdengar bunyi ‘ceklik’ suara seatbelt dilepas. Padahal ada imbauan utk tetap mengenakan seatbelt sampai pesawat parkir dalam posisi sempurna. Lampu tanda seatbelt pun masih menyala. Diumumkan pula dengan duo bahasa. Menurut saya ini aneh.. apa untungnya dengan melepas seatbelt duluan. Toh pesawat juga belum berhenti..mau turun juga gabisa. Tapi tiap orang pasti memiliki alasan tersendiri.. berikut yang dapat saya simpulkan

  • Perut buncit super kegendutan. Pasti penumpang ini merasa tersiksa duduk di kursi ekonomi selama penerbangan berlangsung. Buat duduk aja sempit, apalagi pake seatbelt. Jadi begitu pesawat landing ada kelegaan yang haqiqi di hatinya untuk melepas seatbelt.
  • Ikut trend. Tipe penumpang ini merasa cupu dan tidak gaul bila tidak ikutan melepas seatbelt. Merasa dirinya nanti dicap sebagai orang yg baru pertama naik pesawat, maka akhirnya ikut trend ceklik ceklik seatbelt
  • Trensetter.Tipe penumpang ini merasa dirinya harus menjadi pusat perhatian orang di tengah keheningan. Maka tak heran jika penumpang ini rela lepas-pasang seatbelt sampai tiga kali untuk menciptakan bunyi ceklik tiga kali.
  • Berbahasa Swahili. Tipe penumpang ini tidak bisa bahasa Indonesia maupun English, jadi terpaksa dia tidak mengerti imbauan yang diberikan. Dan akhirnya terbawa arus tipe Ikut Trend.
  • Lupa urutan. Tipe penumpang ini biasanya lesnya di GO.. Contohnya ada pada pertanyaan soal  berikut: Manakah urutan di bawah ini yang mencerminkan tindakan yang benar?
    a. Berhenti – lepas seatbelt – turun – ngopi
    b. Lepas seatbelt – berhenti – turun – ngopi
    c. Lepas seatbelt – berhenti – ngopi – turun
    d. Lepas seatbelt – ngopi- turun – berhenti
    Jika penumpang tersebut adalah alumni GO, dengan kecanggihan teknik eliminasi jawaban, certainly dia akan memilih jawaban b.

Inspirasi dari Tanah Eropa (Resensi)

Pagi itu seperti biasa sebelum berangkat ke kantor saya tengah scroll scroll timeline fesbuk then suddenly a wild post appeared. Hehe..rupanya post dari salah satu teman lama yang promosi buku barunya. Tanpa pikir panjang saya pun ikut preorder sampe lupa bayar. Untunglah ditagih sama penulisnya.

Ga lama, kurang lebih beberapa minggu kemudian, bukunya sudah tiba di meja saya lengkap dengan bonus keychain (thanks ya..). Jadi buku apakah yg saya semangat beli ini? Judulnya “Inspirasi dari Tanah Eropa , kisah dua pemuda muslim yang belajar di Eropa” karya Ahmad Ataka & Ario Muhammad. Membaca judulnya saja langsung membuat saya teringat akan cita cita saya yg belum kesampean, Selfi di budapest. Eh salah, lebih tepatnya kuliah di Eropa.Walau tak pernah saya ungkapkan secara gamblang, tp siapa yang tak mau melanjutkan sekolah di Eropa dan memberi makan burung di taman. Entah kenapa cita cita itu terkikis semenjak masuk dunia karir. Untunglah saya nonton film Rudi Habibie sama baca buku ini.
Sesuai judulnya, buku ini menceritakan kisah-kisah kedua penulis mengarungi dunia yang dibalut dalam cerita sederhana yang inspiratif dan penuh dengan quotes kehidupan. Yang menarik adalah latar kedua penulis ini bukanlah bangsawan berdarah biru -anggap saja rakyat biasa- namun bisa sampai titik di mana keberadaannya “dilihat” oleh dunia. Tentu ini bisa menjadi cerita penyemangat yang bagus bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama. Yang berbeda tentu usaha yang dikeluarkan tiap tiap individu. Di buku ini juga ada kisah menarik bagaimana di balik setiap keberhasilan yang kita peroleh, ada usaha keras yang menyertainya yang mungkin orang lain tak melihatnya.

Saya jadi teringat akan Usain Bolt yang baru dapat 3 gold medal di olympic tahun ini. Dilihat dari perspektif orang banyak tampak dia tanpa kesulitan mencapai garis finis di depan kompetitornya. Orang jadi menilai ini adalah bakat atau turunan atau semacamnya. Namun kuncinya tentu bukan itu. Dalam salah satu videonya, dia menceritakan bagaimana dia berlatih setiap hari sampai melampui batas fisik dan dilakukan secara rutin. Wow.

Back to book, satu lagi yang menarik adalah saya jadi bisa melihat pandangan baru tentang dunia Phd. Saya suka kata penelitian, itu mengingatkan saya akan tugas akhir sewaktu kuliah di mana setiap hari rasanya tidak tenang karna ada sesuatu yang belum terjawab sampai pada level saya tidak tau apa yang sebenarnya saya cari, wkwkw. Membaca buku ini saya suka heran, rupanya ada banyak orang yang hobinya baca paper. Ini cakrawala baru.

Okay jadi pada kesimpulannya tentu buku ini recommended untuk dibaca, terutama untuk generasi pemudi pemuda. Karna sesuai lirik lagu, masa yang akan datang kewajibanmulah, buku ini bisa memberi real inspiration dari pengalaman kedua penulis.

Siantar, 21 Agustus 2016.

Ditulis via hp di saat mati lampu.

Foto by jepretan sendiri

Mampir ke TB Silalahi Museum

Siapa yang ga kenal dengan kota Balige, ibukota dari kabupaten Toba Samosir, tempat di mana memandang eloknya Danau Toba sudah menjadi hal yang biasa. Yap, kota ini memang berbatasan langsung dengan Danau Toba, jadi bisa dibayangkan dong luasnya Danau Toba ini.. perjalanan darat dari Prapat sampai Balige selama 2 jam semua berbatasan dengan danau. Selain danau, berbicara tentang Kota Balige tentu mengingatkan kita sama tempat ikoniknya, yaitu pasar tradisional yang berbentuk rumah adat Batak. Selain itu di kota ini bentornya pun juga ikonik, yaitu pake vespa.

Namun sayang sekali saya jalan-jalan ke Balige bukan untuk naik vespa, namun saya sedang cek user experience pelanggan berbumbu mencari pokemon. Berkeliling kota Balige mencari pokestop akhirnya mengantarkan saya ke pintu gerbang TB Silalahi Museum, museum pribadi TB Silalahi sekaligus museum sejarah suku Batak. Karna saya tengok banyak pokestop, akhirnya saya iseng masuk ke museum. Saat melangkah ke pintu masuk yang cukup megah, saya distop tidak diperbolehkan masuk. Rupanya saya masuk lewat pintu keluar.

IMG_20160809_121807
Berpose bersama patung TB Silalahi

Masuk ke dalam museum TB Silalahi, kita langsung disuguhkan  patung Pak Silalahi dengan macan. Saya kurang mengerti korelasinya, namun bisa diduga ini untuk menampilkan kesan garang. Tak lupa saya pun berfoto. Ada juga helikopter mini yang saya cek-cek walau belum pernah naik helikopter, ini helikopter asli. Kesan saya menengok komplek museum ini adalah ternyata besar dan modern arsitekturnya. Saya pun masuk ke bangunan museum pribadi Pak Silalahi. Oiya yang belum tahu tentang TB Silalahi silakan googling, namun sedikit cerita beliau adalah mantan Menpan pada masa pemerintahan Soeharto.

-lanjut baca…>

Balada BPK

Baru baru ini di media sosial saya ramai berseliweran berita mengenai FPI (Front Pembela Islam) di Deli Serdang yang berdemo menuntut ditutupnya rumah makan khas tanah Karo yang sudah terkenal ini, yaitu BPK (Babi Panggang Karo). FPI mengklaim dirinya terganggu dengan asap yang ditimbulkan akibat dari perbuatan orang yang memanggang babi. Pada saat berdemo, mereka membawa spanduk yang kurang lebih bertuliskan gini: “Hargai kami umat Muslim”.

Sebagai pendatang baru di Sumatra Utara ini, khususnya Siantar, sudah hampir 2 tahun saya melewati (bukan mampir makan) berbagai macam warung BPK, apalagi daerah tempat kerja saya mayoritas memang penggemar makanan yang satu ini. Ada banyak tipe warung makan BPK, mulai dari sekelas restoran sampe sekedar warung makan yang memasaknya di depan sehingga asapnya tumpah ruah sampe ke jalan. Inilah yang dipermasalahkan oleh FPI. Saya pun juga terganggu dengan asap liar BPK ini, tapi entah kenapa ga kepikiran demo turun ke jalan. Mungkin karna saya ga punya massa. Permasalahannya adalah FPI ini terlalu terburu buru hingga harus turun ke jalan dengan membawa isu yang sudah berbau sara sehingga berpotensi memicu ketidakharmonisan antarumat beragama yang selama ini telah berjalan dengan baik. Perlu diketahu, Deli Serdang selama ini termasuk kota dengan indeks toleransi beragama yang tinggi di Indonesia.

Hmm.. FPI..FPI.. mengapa selalu pilih jalan yang “rusuh”. Dalam Islam, babi memang diharamkan tapi tidak ada ajaran untuk memerangi babi. Kalau haram, ya dihindari. Bahkan menurut saya pemilik rumah makan BPK juga sudah cukup toleran dengan menampilkan tulisan “BPK” di rumah makannya sehingga tidak ada masyarakat muslim yg tersesat makan di sana.

Mengenai polemik asap yang menjalar jalar nakal, berikut sedikit trik serius bin jitu menangkal asap nakal :):

  • Ga usa lewat jalan itu
    Cari jalan alternatif yang tanpa lewat asap nakal.. Biasanya warung BPK ini lokasinya terkonsentrasi juga di beberapak titik poin, tidak sporadis menyebar random di kota.
  • Kalo ga ada jalan lain, kalo naik mobil segera tutup jendela dan nyalakan AC. Kalo jendela sudah tertutup yaudah gausa dibuka. Kalo AC nya mati yauda tahan tahan bentar 5 menit tanpa AC. Kalo naik motor, jarak-jarak 50 meter sebelumnya, tarik nafas dalam-dalam dan tahan sampe lewat asap nakal. Hal ini berlaku juga kalo naik mobil yang jendelanya gabisa ditutup. hehe..
    Kalo pake helm yang ada kaca depannya, bagus dibuka aja supaya asap tidak terkumpul di dalam helm.
  • Jangan berhenti pas di kepulan asap
    Waduh, ingat lek..ini asap BPK bukan sate Madura.. Kalo bisa malah tancap gasz. Tapi kalo anda adalah perenang handal yang sedang berlatih teknik pernapasan.. maka boleh saja sengaja memperlambat laju kendaraan di kepulan asap.
  • Jangan nyari Pokemon di kepulan asap
    Tenang saja, di Medan maupun Siantar belum ada pokemon, jadi mau tahan nafas selama apapun di kepulan asap juga ga akan nemu Pokemon.

Xiaomi Mi5 Review

Smartphone kini sudah menjadi benda yang selalu melekat pada diri kita sebagai manusia di muka bumi ini. Semakin lama semakin kompleks dan simple. Buku notes tergantikan, kamera pocket tergantikan, music player tergantikan, laptop dah hampir tergantikan.. Cuma tinggal fungsi mesin cuci aja yang belum ada di smartphone.

Dari berbagai macam tipe smartphone yang pernah saya gunakan, pilihan smartphone terfavorit saya jatuh pada flagship terbaru Xiaomi, Mi5. Selain menawarkan desain yang tipis, flagship tsb juga sudah didukung oleh hardware terbaru. Berikut ini key fitur yang membuat flahship ini menjadi favorit saya:

  • Layar 5.1″ , body ringan.
    Ini faktor penting karna untuk mobile, Mi5 ini sangat nyaman digenggam dan ga berat, jadi setelah menggunakan Mi5 saya tidak mengalami kejadian ketibanan henpon sewaktu scrol-scrol timeline selagi tidur terlentang. Desain nya pun terbilang tipis, cuma 7.3 mm semakin membuat nyaman untuk digenggam. Kalo mau dikasi case pun masih bisa ditoleransi ketebalannya.

    maxresdefault

  • Fast Charging
    Ini juga faktor penting karna untuk mobile, ngisi batre di Mi5 sangat cepat. Satu jam pengisian saja sudah 100%. Selain itu Mi5 juga udah menggunakan USB type C sehingga transfer data menjadi lebih singkat. Ga enaknya adalah kabelnya masih kurang universal jadi gabisa “nunut” ngecas pake kabel temen.
  • -lanjut baca>

Ke Hill Park

Masih lanjut post famgath sebelumnya, setelah berpuas semalaman di The Hill Hotel ngeliatin burung sama orang pacaran, saya punya kesempatan buat nyobain main ke Hill Park. Sayang juga kalo ngga main ke sana karna udah dapet vocher. Lokasinya ngga jauh dari The Hill, sekitar 1 km turun gunung kalo dari arah Kabanjahe di sebelah kanan jalan. Sampingnya KFC. Mencolok tempatnya dan siapapun yang lewat pasti ngeh kalo itu Hill Park.

DSC_0054Tiket masuk free wahana (walau gak all wahana) adalah 70 ribu, beruntung saya punya vocer jadi bisa masuk free. Kesan pertama adalah luas juga pintu masuknya, membuat pengunjung langsung ber selfie ria. Masuk lagi ke pintu utama pun sudah disambut dengan bangunan khas istana yang “fotoselfie-able” lengkap dengan kolam bebeknya. Oiya, Hill Park ini cuma buka di hari Sabtu Minggu dan hari libur nasional saja.. Jadi jangan ke Hill Park di hari Rabu siang.

Continue reading

Ke The Hill Sibolangit

Saya bersyukur bekerja di perusahaan ini walau setiap hari disibukkan dengan kejar target, namun sesuai dengan spirit  budaya perusahaan, kesejahteraan anggotanya tetap dijaga, terutama kebutuhan akan piknik. Kalau ada orang stress bisa dipastikan dia kurang piknik. Kalau ada orang lagi banyak pikiran, bisa dipastikan juga dia kurang piknik. Dengan kata lain piknik sudah menjadi kebutuhan seseorang untuk hidup dan bentar lagi harus masuk ke perlindungan HAM.

Terlalu panjang ngalor ngidulnya, jadi beberapa minggu yang lalu saya mengikuti acara Famgath Telkomsel branch PMS walaupun saya masih seorang diri sedih tak berperi. Untungnya saya masih diijinkan mengikuti acara tersebut dengan konsekuensi efek baper ditanggung sendiri. Acaranya 1 malam main main seneng seneng happy happy  di Hotel The Hill Resort. Ini kali pertama saya ke hotel tersebut, dari Siantar sekitar 3 jam via Kabanjahe. Namun dari Medan lebih dekat, mungkin sekitar 1.5 jam perjalanan.

DSC_0008
Suasana The Hill dan Flamingo yang gamau lari

Kesan pertama yang saya rasakan adalah ternyata ini hotel sekaligus tempat piknik. Jika cuma ingin piknik tanpa menginap, boleh saja tapi tentu ada charge-nya. Jika ingin piknik dan menginap, ya kenapa ga boleh, cuma tinggal bayar kamar. Rate kamarnya sekitar 900 ribuan yang standar. Ada apa di sana?

Tempatnya memang luas, elok, dan memesona, ada danau dan burung. Ada burung di kandang dan ada burung di jalanan. Ada pula kanguru albino tapi dikandang ngga dilepas, lompat-lompatnya pun lucu. Untung saya ikut, jadi saya bisa liat kanguru albino yang lagi lompat-lompat. Yang saya lihat binatang-binatang nya ngga ada di kebun binatang Gembira Loka, kebanyakan memang burung dari Indonesia Timur dan Amerika Selatan.

-lanjut baca>